"How are you today?"
Kamu langsung tahu artinya.
"Apa kabar hari ini?"
Tapi saat harus menjawab...
Otakmu mendadak kosong.
"Ehm..."
"Good..."
Lalu diam.
Kalau kamu pernah mengalami situasi seperti ini, tenang. Kamu tidak sendirian. Banyak orang mengira mereka belum menguasai vocabulary atau grammar. Padahal, sering kali masalahnya bukan di situ.
Masalah sebenarnya adalah belum terbiasa memberikan respons dalam bahasa Inggris.
Saat seseorang berbicara dalam bahasa Inggris, otakmu sebenarnya sedang bekerja sangat keras.
Dalam hitungan detik, otak mencoba:
Tidak heran jika akhirnya kamu terlambat menjawab. Bukan karena tidak bisa.
Tetapi karena proses berpikirnya terlalu panjang.
Coba bayangkan situasi ini.
Seseorang bertanya:
"What do you usually do after work?"
Kamu tahu semua katanya.
Tetapi saat harus menjawab...
"Bahasa Inggrisnya 'rebahan' apa ya?"
"Kalau 'nonton drama' pakai watch atau see?"
"Grammar-nya pakai do atau am?"
Akhirnya yang keluar hanya...
"Umm..."
Padahal sebenarnya kamu sudah memahami pertanyaannya. Yang belum terlatih adalah memberikan jawaban secara spontan.
Bayangkan kamu sedang bermain badminton.
Lawan memukul shuttlecock ke arahmu.
Kalau setiap kali menerima bola kamu harus berpikir:
"Pegangnya bagaimana ya?"
"Ayun raketnya dari mana?"
"Kakinya harus maju atau mundur?"
Sudah pasti shuttlecock keburu jatuh. Begitu juga dengan speaking. Kalau setiap jawaban harus dipikirkan dari nol, percakapan akan terasa berat.Sebaliknya, orang yang sering berlatih tidak menghafal jawaban satu per satu. Mereka membangun kebiasaan merespons.
Itulah yang membuat percakapan terasa mengalir.
Banyak orang menghabiskan waktu menghafal ribuan kosakata. Padahal yang lebih penting adalah membangun respons otomatis. Misalnya:
How are you?
➡️ I'm doing great. How about you?
What are you doing?
➡️ I'm working right now.
Where do you live?
➡️ I live in Jakarta.
Semakin sering pola-pola sederhana seperti ini diucapkan, semakin cepat otak mengenalinya sebagai respons yang alami.
Salah satu alasan kita sering bingung menjawab adalah karena ingin memberikan jawaban yang terdengar sempurna.
Padahal dalam percakapan sehari-hari, jawaban sederhana sudah lebih dari cukup. Misalnya ketika ditanya:
"What did you do this weekend?"
Kamu tidak perlu memberikan cerita panjang.
Jawaban seperti:
"I stayed at home and watched a movie."
sudah membuat percakapan terus berjalan. Komunikasi bukan tentang kalimat yang paling rumit. Komunikasi adalah tentang saling memahami.
Mulailah dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Latih jawabanmu hingga terasa alami. Bukan untuk dihafal seperti robot, tetapi agar otak terbiasa menemukan respons tanpa harus menerjemahkan setiap kata. Semakin sering kamu berlatih menjawab, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan otak untuk berpikir. Lama-kelamaan, kamu akan menjawab secara otomatis.
Kalau selama ini kamu sering berkata,
"Aku sebenarnya paham artinya, tapi bingung mau jawab apa."
Kemungkinan besar masalahmu bukan pada grammar.
Bukan juga karena vocabulary yang kurang.
Yang belum kamu latih adalah kemampuan merespons secara spontan. Ingat, tujuan belajar bahasa Inggris bukan hanya memahami apa yang dikatakan orang lain. Tujuan sebenarnya adalah mampu menanggapi percakapan dengan percaya diri. Jadi, mulai sekarang jangan hanya melatih listening.
Latih juga kemampuanmu untuk menjawab.
Karena dalam sebuah percakapan, memahami adalah langkah pertama.
Merespons adalah keterampilan yang membuat komunikasi benar-benar terjadi.